Keesokan harinya di sekolah… Hinata menemani Boruto menghadap Sensei Shino perihal bolosnya.

“Membolos ya?? Apa sebenarnya maksudmu?? Boruto!!”, tanya Shino.

“Ahhhh… jadi… saat ini aku punya tugas penting yang harus kulakukan. Sensei juga mengerti, bukan?”, jawab Boruto.

“Hal itu tidak ada hubungannya dengan ini. Sekarang ini yang harus kau lakukan adalah belajar. Kau akan mendapat tambahan belajar setelah pulang sekolah. Kau mengerti?!”, Shino menegaskan.

“Terserah saja! Lakukan saja sesukamu!”, kata Boruto.

“Boruto!!!”, hardik Hinata.

“Bersabarlah Boruto… suatu hari nanti…”, kata Shino namun keburu Boruto hilang, ternyata hanya Bunshin.

uuuhhhhhh…. Shino dan Hinata sama-sama menghela nafas…

Di sudut ruangan sekolah…

“Orang tua sepertinya menyusahkan ya?”, kata Mitsuki.

“Ya begitulah”, Boruto menimpali.

“Kalau dibandingkan dengan Ibuku, Ibumu itu masih terlihat lembut”, kata Shikadai sambil menunjukkan bekas merah dipipi tamparan Ibunya.

Hahaha… disambut tawa Boruto.

“Tapi ini aneh, bagaimana mereka bisa tahu?”, heran Mitsuki dengan polosnya.

Heiii… Boruto cukup kesal juga pada Mitsuki.

“Kami tidak akan menyuruhmu melakukannya lagi”, kata Shikadai kepada Mitsuki.

Mitsuki hanya bisa bengong…

Sementara di ruang guru…

“Boruto itu mencari perhatian Ayahnya. Sejak kecil dia sudah banyak mendengar cerita tentang kepahlawanan Ayahnya. Jadi menurutku, dia ingin mempercepat segalanya dengan caranya sendiri”, terang Hinata pada Shino.

“Aku mengerti bagaimana perasaannya. Apakah kau sudah membicarakan ini dengan Naruto?”, Shino menyarankan Hinata untuk bicara dengan Naruto.

“Ya kau benar”, kata Hinata mengerti arah pembicaraan Shino.

Di luar kelas…

“Sepertinya semua sudah datang hari ini. Untuk itu, aku akan menjelaskan pelajaran hari ini”, Shino Sensei memberikan penjelasan.

“Apa tidak ada cara pergi dari sini? Kita seperti ini terus, kita tidak bisa mencari Ghost?”, tanya Boruto pada Shikadai.

“Kita tidak bisa ijin sekolah lagi”, jawab Shikadai

Siang itu Boruto dan kawan-kawan mendapatkan tugas di luar sekolah, untuk mencari pengalaman di tempat kerja. Boruto akhirnya memilih Kantor Pos Konoha yang dirasa cocok sekaligus untuk mencari Ghost.

Oleh Kepala Kantor Pos, Boruto ditugaskan untuk mengantarkan surat bersama Petugas Pos Kuroyagi Tayori. “Halo, aku Kuroyagi Tayori dan aku yang akan menemani kalian. Salam kenal ya…”, Tayori memperkenalkan diri.

“Mohon kerjasamanya ya…”, kata Boruto.

Di tengah pengantaran surat, Boruto melihat Hokage Ketujuh sedang meresmikan sebuah gedung yang kemudian menghampiri Boruto.

“Jadi Ayah melihatku, ya?”, kata Boruto dengan wajah muramnya.

“Tasmu itu sangat cocok untukmu”, Naruto menyapa.

“Dan Ayah kelihatan sibuk melindungi kedamaian desa…”, tanya Boruto.

“Yah, ini juga salah satu pekerjaan Ayah”, jawab Naruto.

“Jadi, kau sedang melakukan tugas pengalaman di tempat kerja…? Hinata memberitahuku… Dengar Boruto, bisa mengirimkan satu suratpun entah di tempat manapun di dunia ini, adalah hal yang sangat hebat”, kata Naruto sambil mengelus kepala Boruto.

“Terserah saja! Ayah paling juga mendengar perkataan itu dari orang lain!”, Boruto melepaskan elusan tangan Naruto dengan wajah kesal.

Akhirnya mereka berpencar mengantarkan surat…

Tidak perlu waktu lama… suratpun sudah terkirim semuanya, dan Boruto bersama Shikadai sudah kembali berkumpul di tempat Tayori mrngantarkan surat pada penduduk.

“Kami sudah menyelesaikan semua tugas kami…”, kata Boruto memberi laporan.

“I-itu… Cepat sekali…”, Tayori keheranan.

“Apa kami harus mengirimkan itu juga?”, tanya Boruto sambil menunjuk surat di tas Tayori.

“Biar aku saja.. kalian boleh istrirahat dulu,” tolak Tayori.

Boruto!… Mitsuki datang dan memanggil…

“Ada apa Mitsuki??…”

“Aku baru saja berbicara pada seseorang dari Kantor Polisi… Ada pergerakan di Taman Senju…”, kata Mitsuki.

“Taman Senju itu ada di seberang desa ini! Apa kita bisa ke sana tepat waktu?”, Shikadai menimpali.

“Kita harus berangkat sekarang! Sisanya kuserahkan padamu ya…”, kata Boruto kepada Tayori.

TAMAN SENJU

Terlihat kondisi berantakan dan banyak Polisi Ninja di sana mengamankan situasi.

Satu korban tampak dalam kondisi mengenaskan, kurus keris kehabisan cakra dan dalam kondisi kritis.

Sei, utusan Hokage Ketujuh datang untung menyelidiki dan mencari petunjuk.

“emmmm ini…”, kata Sei menunjuk daun kecil di sebuah bangku yang pecah berantakan.

“Cepat.. cepat… cepat”, kata Boruto berlari dan datang ke Taman Senju tapi sudah terlambat.

“Sialllll…. lain kali aku akan menangkapmu!!!”, teriak Boruto.

Sementara itu di Kantor Hokage Ketujuh…

Sei menancapkan beberapa poin ke peta Desa Konoha.

“Ini adalah insiden ke delapan minggu ini”, kata Naruto.

“Tidak ada ancaman yang berhubungan dengan insiden baru-baru ini… pada awalnya, para korban hanya terbatas orang-orang di Akademi… Sekarang korbannya jatuh pada waktu dan tempat yang acak… Kalau seperti ini, kita tidak akan bisa mendapatkan data yang akurat tentang pelaku insiden ini… hanya saja…”, Sei memberikan penjelasan.

“Hanya saja???”, Shikamaru memotong.

“Aku menemukan satu petunjuk saat penyelidikan sore ini. Entah kenapa Teknologi Terlarang ikut terlibat”, kata Sei.

“Hei, jangan-jangan…!”, Shikamaru tampak mulai curiga sesuatu.

“Ya, Sel Hashirama”, jawab Sei.

“Sel Hashirama bukanlah hal yang bisa ditangani dengan mudah. Kau dulunya bagian dari ANBU, jadi seharusnya kau tahu hal ini”, Shikamaru meminta penjelasan Sei.

“ANBU adalah organisasi rahasia Desa ini. Dan di dalamnya ada organisasi yang lebih rahasia lagi, Ne.  Kudengan itu adalah tim yang memuali penelitian tentang sel Hashirama”, Sei menjelaskan.

“Tapi, Ne dibubarkan setelah kematian Danzo”, kata Shikamaru.

“Pada awalnya aku juga tidak percaya hal itu. Hingga aku melihat hal ini…”, kata Sei sambil menunjukkan foto bunga kecil di bangku Taman Senju.

“Ini adalah jejak yang ditinggalkan setelah menggunakan Mokuton!”, Shikamaru terkejut senang satu petunjuk didapatkan.

“Ya. Kau bisa mencarinya di semua Hi no Kuni, tapi hanya beberapa ninja yang bisa menggunakan Mokuton. Terlebih lagi, pelaku insiden hari ini tidak punya kekuatan seperti itu. Tapi hanya satu pengecualian…”, kata Sei.

“Sel Hashirama”, Naruto memotong.

“Tim super rahasia di Ne menggunakan sel Hashirama untuk meneliti alat yang bisa mengekstrak cakra manusia”, Sei menerangkan.

“Tapi apa gunanya mencuri cakra orang lain?… Jika tujuan mereka adalah membunuh seseorang, cara ini terlalu lama”, tanya Shikamaru.

“Tujuan mereka bukanlah pembunuhan. Mereka memanen chakra”, jawab Sei.

“Memanen chakra? untuk apa?”, tanya Naruto.

“Saya masih tidak tahu itu. Ne adalah organisasi yang sangat rahasia. Tapi tim penelitinya ada di bagian senjata militer”, terang Sei.

“Yah, tiba-tiba saja semua ini jadi mencurigakan…”, Shikamaru semakin curiga.

“Kita harus segera melakukan sesuatu…”, kata Naruto.

KANTOR POS PUSAT

“Aku tidak akan membiarkan Ghost lari lagi… ayo kita percepat langkah kaki kita!”, kata Borotu pada Shikadai dan Mitsuki.

“Apa kita harus memerikas rute pengirimannya”, Shikadai menyahut.

Sementara di dalam Kantor Pos ada seseorang mengamuk kepada Kepala Pos…

“Berapa kali harus kubilang padamu kami sedang memeriksanya…”, kata Kepala Pos.

Ternyata yang mengamuk adalah Choco.

“Penjelasan itu tidak begitu penting, bukan? Ini darurat!”, Choco berteriak.

“Chocho! Apa yang kau lakukan?”, sergah Boruto.

“Jangan-jangan dia si Ghost?!”, tanya Shikadai.

“Tidak, sepertinya bukan”, jawab Boruto.

“Bo-ru-tooooooo…..”, Chocho geram dan langsung menangkap Boruto dengan tangan besarnya.

“Keripik kentang edisi terbatasku seharusnya dikirim kemarin, tetapi mengapa aku belum menerimanya?! Apa maksudnya ini?!”, tanya Chocho pada Boruto.

“A-Aku tidak tahu!… Kita sudah mengirimkan semuanya, bukan?”, tanya Boruto pada Mitsuki yang senyum-senyum saja.

“Apa yang akan kau lakukan jika aku mati kelaparan?!”, teriak Chocho.

“Pagi ini kami menerima banyak keluhan! Kalian bisa mengirim surat atau tidak sih?!”, Kepala Kantor Pos ikut berteriak ke arah Boruto.

“Aku tidak akan membiarkan kalian membuat masalah lagi! Kalian tetaplah di sini dan menghitung perangko saja!”, kata Kepala Pos.

“Yang benar saja!”, protes Boruto.

Setelah beberapa saat lamanya menghitung perangko terdengar perbincangan di luar…

“Apa kau dengar? Insiden yang sama terulang kembali”, kata salah seorang karyawan pos pada temannya.

“Benarkah?… Akhir-akhir ini insiden ini sering terjadi… Kali ini tempat kejadiannya dimana ya?”, temannya bertanya.

Boruto dan Shikadai yang memperhatikan cukup terkejut.

Muncul di berita Televisi Pabrik Pemurnian Air Konoha.

Orang yang diduga pelaku telah memblokir jalan masuk pabrik, dan menyandera beberapa orang. Berdasarkan para saksi, beberapa murid Akademi yang sedang magang di sana, terlibat dalam insiden ini (reporter tv melaporkan)

Boruto yang mendengar langsung berita dari Televisi langsung berlari keluar Kantor Pos menuju Pabrik Pemurnian Air.

“Boruto! Kita tidak tahu apakah itu Ketua Kelas dan timnya”, kata Shikadai ikut berlari mengejar Boruto.

“Kumohon… kuharap aku bisa tiba tepat waktu!”, Boruto berharap cemas.

Di Pabrik Air terlihat ketua kelas tergeletak…

Bersambung…

Anime Boruto Chapter 11 “Dalang Dibalik Bayangan”, rilis pada tanggal 14 Juni 2017.

Incoming search terms:

  • komik boruto chapter 16
  • boruto chapter 16 versi teks
  • alur cerita boruto chapter 16
  • bocoran boruto episode 15
  • komik boruto chapter 14 full color
  • komik boruto episode 16
  • baca komik boruto chapter 16
  • alur cerita boruto episode 13
  • gozu tennou
  • boruto episode 12 sub indo
Cerita Anime Boruto Chapter 10 “Insiden Ghost: Investigasi Dimulai”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/* */

About Us | Privacy Policy
DMCA.com Protection Status