Para murid banyak yang tidak terima dengan keputusan Shino, karena merasa sudah sampai ke finish.

“Apa… aku berhasil sebelum waktu habis!… Aku juga!”.

“Kalau kalian bertiga tidak selesai, kalian gagal. Alasannya adalah karena genin bekerja dalam satu tim. Dengan kata lain, genin harus bisa bekerja sama di dalam satu tim yang terdiri dari tiga orang. Demi kesuksesan misi, kerja sama itu penting. Meninggalkan rekan kalian itu sangat dilarang.”, Shino menjelaskan lebih lanjut.

Konohamaru juga ikut menjelaskan tentang beberapa hal bahwa mereka akan mengawasi tim yang sudah terbentuk dan akan datang secara berkala.

“Latihan untuk hari ini selesai!”, instruksi Shino.

Setelah latihan selesai Boruto dkk membicarakan tentang keberadaan keberadaan Ghost yang sepertinya tidak muncul lagi.

“Sudah tidak ada insiden Ghost lagi, ya?” tanya Denki pada Boruto.

“Benar. Mungkin kita membuatnya takut”, jawab Boruto

“Dia pasti tidak akan melakukan pergerakan secara gegabah”, Shikadai menimpali.

“Yah, walaupun Boruto bisa melihat Ghost, kita masih belum tahu dalang di balik semua ini”, Inojin ikut bicara.

Mitsuki hanya diam memperhatikan Boruto dan teman-temannya bicara. Sepertinya Mitsuki sedang memikirkan sesuatu.

Karena asik berdiskusi Ghost, Boruto merasakan perutnya lapar. Kemudian mengajak Denki dan Inojin untuk makan di kantin.

“Dasar. Boruto selalu menyusahkan saja…”, Shikadai tersenyum melihat Boruto pergi ke arah kantin.

“Latihan tadi… Aku mengerti apa yang dikatakan Sensei, tapi demi kesuksesan misi, akan jadi normal kalau aku pergi tanpa menunggu teman-temanku, kan?”, tanya Mitsuki pada Shikadai.

“Kau ada benarnya… tapi itu artinya kau akan meninggalkan teman-temanmu”, jawab Shikadai.

“Hei, apa kau tahu kenapa aku tadi menolongnya?”, tanya Mitsuki lagi.

“Hah. Entalah… mungkin dia penyebabnya… Dia itu benar-benar menyusahkan”, jawab Shikadai tertawa sambil melihat ke arah Boruto.

Mitsuki sedikit melamun teringat bayangan dua orang yang selama ini dekat dengannya.

Di Ruang Kelas Akademi

Shino, Konohamaru dan Moegi berbincang santai tentang murid-murid Akademi tahun ini.

“Para murid tahun ini terlihat sangat menjanjikan…”, Moegi memulai pembicaraan.

“Mereka sudah menunjukkan kedewasaan yang melebihi ekspektasi kita. Dengan ini, mereka bisa menjadi shinobi hebat. Apa ada murid yang menarik bagimu?”, tanya Shino.

“Kalau soal itu… Yuino Iwabe tampaknya sudah berubah… dan mungkin Uzumaki Boruto”, jawab Moegi.

“Yah, lagipula dia adalah putra Hokage Ketujuh!”, Konohamaru menimpali.

“Uzumaki Boruto… Tidak diragukan lagi, dia menjadi inti dari kelas ini” kata Shino.

“Di waktu yang sama, dia juga jadi sumber masalah!” Konohamaru menambahkan.

Di Taman Akademi

Terlihat Iwabe berjalan dengan serius membaca buku Aritmatika. Boruto menyapa dan mencoba membantu kesulitan yang dialami Iwabe. Mitsuki dengan serius memperhatikan apa yang dilakukan oleh Boruto.

Bahkan Mitsuki akhirnya mengikuti Iwabe untuk menanyakan sesuatu hal kepadanya.

“Hei! Kudengar, dulunya kau merasa tidak cocok dengan kelas ini?” tanya Mitsuki.

“Hah! Apa kau gajak berantem?” tanya balik Iwabe.

“Tapi sekarang kau terlihat sangat menikmatinya. Apa itu karena Boruto?” Mitsuki melanjutkan pertanyaanya.

“E-Entalah!” jawab Iwabe sambil pergi meninggalkan Mitsuki.

Jam Pulang Sekolah

Inojin menyapa Mitsuki yang terihat keluar meninggalkan Akademi. Inojin penasaran dengan Mitsuki yang akhir-akhir ini memperhatikan tingkah laku Boruto.

“Sepertinya kau sangat perhatian dengan Boruto akhir-akhir ini”, sapa Inojin.

“Boruto selalu terlihat ceria, ya? Kelihatannya banyak yang tertarik dengan Boruto” kata Mitsuki sekaligus bertanya.

“Karena Boruto itu bodoh. Itu karena dia tidak peduli tentang apa yang dipikirkan orang lain. Dia memiliki pemikirannya sendiri. Mungkin karena dia lelah karena selalu diperlakukan berbeda hanya karena dia anak dari seorang Hokage. Karena itu dia selalu berjuang untuk orang lain dan ikut menanggungnya, dan membuatnya lebih rumit lagi”, jawab Inojin.

“Dan itu hanya menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri, makanya dia itu super bodoh. Itulah mengapa banyak yang tertarik dengan Boruto. Orang lain dapat menerimanya karena usahanya sendiri, itu hal hebat kan? Tapi cukup melelahkan kalau ada orang sepertinya. Terutama ketua kelas… Dia pasti kelewat stres ya. Mungkin aku terlalu berlebihan ya…”, Inojin melanjutkan jawabannya.

“Ketua kelas…”, Mitsuki masih berpikir.

Di Rumah Sakit

Mitsuki yang masih penasaran dengan Boruto terus mencari informasi dan kali ini langsung mendatangi Sumire, Ketua Kelas yang masih berada di Rumah Sakit karena insiden Ghost.

“Sepertinya kau sudah mulai membaik”, sapa Mitsuki.

“Mitsuki? Kamu datang sendiri?”, tanya Sumire.

“Apa kau baik-baik saja?”, tanya Mitsuki

“Ya… Mereka bilang aku bisa keluar secepatnya…”, jawab Sumire.

“Begitu ya, baguslah… Kita juga berharap kau cepat membaik. Hei, bisakah aku tanya sesuatu? Bagaimana pendapatmu tentang Boruto?”, tanya Mitsuki.

“Apa maksudnya”, tanya balik Sumire.

“Inojin bilang kau kelewat stres karena dia”, kata Mitsuki.

“Itu tidak benar. Memang selalu ada masalah di kelas dan membuatku panik. Tapi menyenangkan memiliki teman seperti Boruto di kelas”, jawab Sumire.

“Bagaimana denganmu Mitsuki”, tanya Sumire.

“Aku?… Aku masih belum tahu pasti”, jawab Mitsuki.

Kemudian Sumire bercerita tentang kedua orang tuanya yang telah meninggal. Bahwa mereka juga seorang ninja. Dan Sumire ingin melakukan sesuatu meski tak memiliki kemampuan seperti Ayahnya.

“Hei, apa kau pernah memikirkan yang dipikirkan orang lain tentangmu?”, tanya Mitsuki.

“Aku tak tahu. Tapi aku ingin insiden ini berakhir secepatnya. Itulah yang kurasakan”, jawab Sumire.

Keesokan Hari di Luar Kelas Akademi

Para murid sepertinya sibuk menata sesuatu. Terlihat Mitsuki datang mendekati Boruto.

“Hei, Boruto…”, sapa Mitsuki tersenyum.

“Huh? Ada apa Mitsuki?”, tanya Boruto heran.

Mitsuki menjawabnya dengan senyum, Boruto makin heran.

Di Rumah Boruto

“Aku pulang!”, sapa Boruto pada Ibu dan Adiknya.

“Selamat datang”, jawab Hinata.

“Selamat sore”, Mitsuki ikut menyapa Hinata.

“Selamat datang, kamu pasti Mitsuki kan?”, tanya Hinata.

“Hi…”, Himawari menyapa Mitsuki.

“Wow… tidak biasanya kakak membawa temannya ke rumah”, kata Himawari.

Boruto cukup heran melihat Ibunya memasak banyak jenis makanan.

“Kelihatannya mau ada pesta ya?”, tanya Boruto.

“Kau bilang akan bawa temanmu, jadi aku menyiapkannya”, jawab Hinata.

“Itu membuatku malu, jangan melakukannya berlebihan Ibu…”, kata Boruto.

“Dan juga Boruto… Ayah juga pulang lebih awal”, kata Hinata.

“Ayah?!”, Boruto sedikit terkejut.

“Ya, Papa juga akan ikut , lho”, Himawari bersemangat.

“Kau tidak ingin dia (Hokage) ada di sini ya, Boruto?”, tanya Mitsuki.

“Bukan begitu”, jawab Boruto.

“Pokoknya, sini kutunjukkan kamarku! Ikuti aku!”, kata Boruto pada Mitsuki.

Mitsuki mengikuti Boruto menuju kamarnya.

“Kau boleh duduk dimanapun”, kata Boruto.

“Ayahmu adalah Hokage Ketujuh, bukan?” tanya Mitsuki.

“Ya…” jawab Boruto.

“Aku belum pernah berbicara langsung dengannya” kata Mitsuki.

“Baiklah… Nanti kau akan kuperkenalkan dengannya” sahut Boruto.

“Hokage ketujuh, Uzumaki Naruto. Pahlawan yang mengakhiri Perang Besar Ninja, orang yang memiliki chakra besar dan bisa melakukan jutsu super kuat, orang yang dianggap paling kuat diantara Lima Kage saat ini. Itulah yang kudengar. Tuan Hokage adalah orang yang hebat” kata Mitsuki penuh kekaguman.

“Kau tidak perlu menggunakan Tuan. Aku tidak tahu bagaimana di mata orang lain, tapi di rumah kami, dia hanyalah ayah yang tak berguna. Dia membuat ibu melakukan segalanya, tidak bisa melakukan satu pun pekerjaan rumah, hanya bisa makan ramen dan suka menggerutu… Dia adalah ayah yang bodoh” kata Boruto sambil tersenyum.

“Hei, apa kau suka Tuan Hokage atau kau membencinya?” tanya Mitsuki.

“Huh?! Yah…” Boruto bengong.

“Kalian berdua, makan malam sudah siap!” Hinata memanggil.

Boruto dan Mitsuki turun menuju ruang makan.

“Selama ini kau hanya memakan hamburger dan yakisoba, kupikir kau tidak pernah memakan hidangan yang layak di rumah” kata Mitsuki.

“Jangan bicara seperti itu!” Boruto kesal.

“Baiklah, Mitsuki, makanlah yang banyak!” Hinata mempersilakan.

“Aku pulang!” Naruto datang.

Terlihat wajah Boruto yang agak kesal dengan kedatangan Ayahnya. Hinata dan Himawari menyambut Naruto di pintu.

“Ini ada hadiah. Babi panggang char siu dari Ichiraku” kata Naruto memberikan bingkisan ke Hinata.

“Cih… terlambat seperti biasanya”, kata Boruto.

“Ah… kalau tidak salah kau….” kata Naruto ke arah Mitsuki.

“Saya Mitsuki dari Otogakure”, Mitsuki berdiri memperkenalkan diri.

“Yah… Aku sudah mendengar tentangmu. Aku Uzumaki Naruto” Naruto menyalami Mitsuki.

“Ya, saya sudah mendengar banyak kisah tentang Anda dari orang tua saya, Tuan Hokage” sambut Mitsuki menyalami Naruto.

“Akhir-akhir ini aku hanya makan cup ramen. Sudah lama aku tidak makan masakan rumah buatanmu, Hinata” Naruto terlihat sangat gembira.

Selamat makan!!!!

“Ayo kita makan” kata Boruto ikut gembira.

Namun pada saat Naruto akan mengambil makanan dengan sumpit, bunshin yang ditinggal di kantor sedang mendapatkan laporan informasi yang sangat penting.

“Chakra itu sama dengan chakra yang terdeteksi dalam insiden akhir-akhir ini. Saat ini Sai sudah bergerak” Shikamaru memberikan laporan.

“Sayang…” tanya Hinata.

“Maaf Hinata, aku harus pergi” kata Naruto.

“Lagi-lagi?! Kenapa kau yang harus pergi?!” Boruto berdiri dengan kesal.

Naruto mencoba memberikan penjelasan pada Boruto tentang insiden yang terjadi, namun Boruto tidak bisa menerimanya dan berlari keluar meninggalkan rumah.

“Boruto….!” cegah Hinata.

“Biar saya yang mengejarnya” kata Mitsuki.

“Mitsuki… tolong” pinta Naruto.

Mitsuki ya… (dalam pikiran Naruto)

Di Sebuah Taman Konoha

Terlihat Boruto yang kesal sedang memandang kota Konoha. Mitsuki sudah berada di belakang Boruto.

“Ternyata… Hokage jauh ebih sibuk dari perkiraanku, ya?” tanya Mitsuki.

Hei…

“Sebelumnya, dia selalu ada untukku dan Himawari. Tapi sejak dia menjadi Hokage, yang dia pikirkan hanyalah pekerjaannya. Ini semua terjadi karena dia seorang Hokage. Dia tidak pernah pulang karena dia seorang Hokage! Dia tidak pernah ada untuk kami karena dia seorang Hokage! Hokage, Hokage, Hokage, Hokage… Memangnya siapa itu Hokage?! Aku sangat membenci Hokage!” teriak Boruto kesal.

“Benarkah? karena menurutku, kau sangat menyukai Tuan Hokage” kata Mitsuki.

“Mana mungkin seperti itu! Hokage adalah orang yang mengorbankan orang-orang didekatnya demi kepentingan desa, aku tidak butuh orang seperti itu! Karena itu aku tidak akan pernah mengorbankan orang-orang di sekitarku! Aku akan melakukan hal yang tidak bisa dilakukan Ayah dan membuat dia menyadarinya!” kata Boruto.

Mitsuki tertegun… mendengar kata-kata Boruto dan kembali teringat dua orang yang selama ini dekat dengannya.

“Begitu ya… Ternyata kau juga begitu” Mitsuki terlihat gembira.

“Hei, Boruto… Hari ini aku datang ke sini untuk mengatakan sesuatu padamu” kata Mitsuki.

“Mengapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?” tanya Boruto.

“Aku memang masih ragu harus mengatakannya atau tidak, tapi sepertinya aku memang harus mengatakannya” kata Mitsuki yang membuat Boruto makin penasaran.

“Aku tahu pelaku di balik insiden Ghost…” Mitsuki melanjutkan

Boruto terkejut mendengar perkataan Mitsuki…

End.

Bersambung…

Anime Boruto Chapter 13 “Munculnya Sang Iblis”, 28 Juni 2017.

Incoming search terms:

  • komik boruto chapter 16 full color
  • boruto episode 15 sub indo
  • boruto episode 15
  • samehadaku boruto episode 14
  • komik boruto chapter 16 bahasa indonesia
  • komik boruto chapter 15
  • boruto episode 14 sub indo
  • boruto episode 14
  • minatosuki boruto 14
  • samehadaku boruto13
Baca Cerita Anime Boruto Chapter 12 “Boruto dan Mitsuki”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/* */

About Us | Privacy Policy
DMCA.com Protection Status